
JOMBANG,Liputan11.com – Rasa nyeri akibat gigi berlubang sering kali membuat seseorang memilih jalan pintas dengan meminta dokter segera mencabut gigi yang bermasalah. Di tengah masyarakat pun masih berkembang anggapan bahwa gigi berlubang identik dengan pencabutan. Padahal, dalam dunia kedokteran gigi modern, mempertahankan gigi asli menjadi prioritas utama selama kondisinya masih memungkinkan untuk dirawat.
Pesan penting tersebut disampaikan dokter spesialis konservasi gigi RSUD Jombang, drg. Safa Pramata Andriyanti, Sp.KG, dalam dialog interaktif “Humas RSUD Jombang Menyapa” yang digelar pada Senin (13/7/2026). Melalui edukasi itu, masyarakat diajak memahami bahwa setiap gigi berlubang memiliki tingkat kerusakan yang berbeda sehingga memerlukan penanganan yang disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dokter.
Menurut drg. Safa, keputusan untuk menambal, melakukan perawatan saluran akar, maupun mencabut gigi tidak dapat ditentukan hanya dari rasa sakit yang dirasakan pasien. Dokter harus melakukan pemeriksaan menyeluruh agar terapi yang diberikan benar-benar tepat sasaran.
“Masih banyak masyarakat yang datang dengan anggapan bahwa ketika gigi terasa sakit berarti harus dicabut. Padahal, belum tentu demikian. Banyak gigi yang sebenarnya masih dapat dipertahankan melalui perawatan yang tepat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa gigi memiliki struktur yang terdiri atas tiga lapisan utama, yaitu email, dentin, dan pulpa. Email merupakan lapisan terluar yang paling keras dan berfungsi melindungi jaringan di dalam gigi. Di bawahnya terdapat dentin yang lebih lunak, sedangkan pulpa merupakan bagian terdalam yang berisi pembuluh darah dan jaringan saraf.
Apabila kerusakan hanya terjadi pada lapisan email atau dentin, tindakan penambalan umumnya sudah cukup untuk mengembalikan fungsi gigi. Namun ketika bakteri telah menembus hingga pulpa, pasien memerlukan perawatan saluran akar guna membersihkan jaringan yang terinfeksi sebelum gigi dipulihkan dengan restorasi atau mahkota gigi.
Menurutnya, prosedur tersebut bukan hanya bertujuan menghilangkan rasa sakit, tetapi juga menyelamatkan gigi agar tetap dapat digunakan untuk mengunyah secara normal.
Drg. Safa juga meluruskan anggapan bahwa tingkat rasa sakit selalu mencerminkan tingkat keparahan kerusakan gigi. Faktanya, terdapat kasus di mana gigi yang sudah mengalami kerusakan cukup berat justru tidak lagi terasa nyeri karena jaringan sarafnya telah mati.
Sebaliknya, lubang yang relatif kecil justru bisa menimbulkan rasa ngilu hebat apabila mengenai bagian dentin yang sensitif. Oleh sebab itu, pemeriksaan langsung oleh dokter menjadi langkah yang tidak bisa diabaikan.
“Jangan mendiagnosis sendiri. Tidak semua gigi yang sakit harus dicabut, begitu pula gigi yang tidak sakit bukan berarti sehat. Pemeriksaan klinis, ditambah foto rontgen bila diperlukan, akan membantu dokter mengetahui kondisi sebenarnya sehingga penanganan yang diberikan lebih tepat,” jelasnya.
Ia menambahkan, infeksi pada saraf gigi yang dibiarkan tanpa pengobatan dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius. Bakteri tidak hanya merusak jaringan di dalam gigi, tetapi juga dapat menyebar ke ujung akar hingga menyebabkan abses, pembengkakan pada wajah, kerusakan tulang rahang, bahkan infeksi yang meluas ke jaringan di sekitarnya.
Karena itu, pasien diimbau tidak menunda pemeriksaan hanya karena rasa sakit dianggap masih dapat ditahan.
“Semakin lama infeksi dibiarkan, penanganannya akan semakin kompleks. Bahkan pada kondisi tertentu, gigi yang sebenarnya masih bisa diselamatkan akhirnya terpaksa dicabut karena kerusakannya sudah terlalu berat,” paparnya.
Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan gigi, RSUD Jombang kini telah menghadirkan Poli Endodonti atau Poli Konservasi Gigi yang memberikan layanan khusus untuk penanganan gigi berlubang, perawatan saluran akar, restorasi gigi, hingga berbagai tindakan konservasi lainnya.
Keberadaan layanan tersebut diharapkan mampu memberikan akses pelayanan yang lebih lengkap, cepat, dan berkualitas bagi masyarakat Jombang sehingga pasien tidak perlu lagi mencari layanan serupa ke luar daerah.
Selain pengobatan, RSUD Jombang juga terus mengedepankan upaya promotif dan preventif melalui edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi sejak usia dini. Masyarakat dianjurkan menyikat gigi minimal dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride, membersihkan sela-sela gigi dengan dental floss, mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, serta menjalani pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap enam bulan sekali meskipun tidak merasakan keluhan.
Menurut drg. Safa, kebiasaan sederhana tersebut merupakan investasi kesehatan jangka panjang yang mampu mencegah berbagai penyakit gigi dan mulut serta mengurangi risiko tindakan medis yang lebih rumit dan mahal.
“Jangan menunggu sampai rasa sakit sudah tidak tertahankan. Semakin dini gigi berlubang ditemukan, semakin besar peluang gigi asli dapat dipertahankan. Gigi alami adalah aset yang tidak dapat tergantikan sepenuhnya, sehingga sudah seharusnya kita menjaganya sejak sekarang,” pungkasnya.
Melalui edukasi ini, RSUD Jombang berharap masyarakat semakin memahami bahwa menjaga kesehatan gigi bukan hanya soal menghilangkan rasa sakit, tetapi juga mempertahankan fungsi gigi sebagai bagian penting dari kesehatan tubuh secara menyeluruh. Dengan kesadaran untuk memeriksakan gigi secara berkala dan tidak menunda pengobatan, kualitas hidup masyarakat pun diharapkan dapat terus meningkat.(Im)