Close Menu
Liputan11
  • Home
  • Update
    • Peristiwa
    • Pemerintahan
    • Pendidikan
    • Pariwisata
    • Olahraga
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
    • Tulungagung
    • Kediri
    • Situbondo
    • Trenggalek
    • Ponorogo
    • Blitar
    • Jombang
    • Malang
    • Banyuwangi
  • Politik
  • Info Desa
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Polres Situbondo Tetapkan Empat Orang Tersangka Perjudian Sabung Ayam di Mangaran
  • Ratusan Gamer Ramaikan Kapolres Cup Mobile Legends di Situbondo Jawa Timur
  • Hadiri HUT PPNI ke-52, Ini Pesan Plt Bupati Tulungagung
  • Jamaah Calon Haji Tulungagung 1447 Hijriyah Diberangkatkan, Ini pesan Plt. Bupati Ahmad Baharudin
  • Tingkatkan Kesadaran Wajib Pajak, Bapenda Jombang Sosialisasikan Peran Strategis Opsen PKB dan BBNKB
  • Satpolairud Polres Situbondo Jawa Timur Intensif Patroli, Nelayan Diingatkan Prioritaskan Untuk Keselamatan
  • Perhutani KPH Bondowoso Teken PKS Optimalisasi Aset Dukung Program KDMP
Sabtu, 9 Mei 2026 - 23:58 WIB
Liputan11
  • Home
  • Update
    • Peristiwa
    • Pemerintahan
    • Pendidikan
    • Pariwisata
    • Olahraga
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
    • Tulungagung
    • Kediri
    • Situbondo
    • Trenggalek
    • Ponorogo
    • Blitar
    • Jombang
    • Malang
    • Banyuwangi
  • Politik
  • Info Desa
Liputan11
Berita Utama » Khazanah » Budaya

Perjalanan Panjang Wayang Papua

Selasa, 12 Juli 2022 - 17:41 WIB
WhatsApp Facebook Twitter Copy Link
Screenshot 2022 0712 173759
Share
Facebook Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

YOGYAKARTA.LIPUTAN11.COM-Seniman muda berdarah campuran jawa, Papua, Lejar Dani Asrtana, telah berhasil mengkreasikan perpaduan budaya jawa dengan Papua dalam bentuk wayang.

Dari pantauan awakmedia, pria berdarah campuran Jawa Papua yang akrab disapa dengan nama panggilan Lejar ini, memiliki watak tegas, cepat ambil keputusan, selain itu Ia juga mewarisi sifat dari Ibunya yang asli dari Yogyakarta yang memiliki watak teliti, dan penuh pertimbangan.

Dari kedua watak dan sifat yang diwarisi dari orangtuanya tersebut, Ia berhasil memadukannya dua budaya lewat media wayang dari jawa. Namun demikian masih memerlukan waktu yang panjang untuk memperkenalkan wayang tersebut di kalangan masyarakat.

Sifat dari kedua orang tuanya membuat Lejar memiliki pandangan yang berbeda dari teman-teman seusianya.
Lejar menciptakan Wayang penuh kreasi dengan mengambil cerita suku rakyat Malind, terciptalah wayang Papua.

Saat ditemui tim Liputan11.Com di rumah seni di bawah komunitas Gulma yogjakarta, Lejar mengatakan bahwa, dalam perkembangannya, seni wayang dikategorikan dua jenis, yakni wayang tradisi, yang memiliki SOP, dan wayang kreasi, yang perkembangannya tergantung kreasi masing -masing pelakunya.

Baca Juga:  Tour Sangkan Paraning Dumadi

Walaupun diawal kemunculannya, wayang cuma ada di jawa, namun ceritera bisa diambil dari suku Malind dengan segudang nya. Hal inilah yang di tekuni oleh Kk.Lejar.

“Namun seiring dengan perjalanan waktu, wayang harus memiliki cerita,” papar alumni ISI Yogyakarta, saat diwawancarai tim Liputan11.Com. Selasa, (12/7/2022).

“Maka di ambilah dari kumpulan buku cerita suku Malind susunan I J.Ndiken, ajaran suku Malind mengandung ajaran merawat alam, menghargai sesama manusia, guna melestarikan kebudayaan. Ajaran tersebut banyak kesesuaian di jawa,” tuturnya.

Lebih lanjut disampaikan Lejar, pada pentas yang di selenggarakan pada tanggal 10 Juli 2022, di ruang komunitas Gulma Bantul, Yogyakarta, telah mampu menyedot banyak penonton terutama kaum muda yang tentu terus harus mendapatkan bimbingan dan penjelasan.

Baca Juga:  Pelatihan dan Pemberian Bantuan Alat Kerja, Begini Pesan Ketua Komisi A DPRD DIY

Lejar mengaku, usaha dalam memperkenalkan wayang Papua sudah lama di lakukan di berbagai daerah, bahkan sampai Manca negara. Namun demikian Ia mengungkapkan bahwa, pro dan kontra masih tetap ada.

“Maka untuk menghilangkan kesalah pahaman tentang wayang Papua dirubah menjadi wayang Kk.Lejar, yang di sesuaikan dengan penciptanya,” terangnya.

Ia juga menambahkan, wayang Kk.Lejar yang merupakan wayang kreasi memang dominan dengan warna hitam, hal tersebut merupakan filosofi bahwa warna hitam bisa disandingkan dengan warna apa saja sehingga mampu menghadirkan keindahan dalam suatu seni.

“Kalau kita hidup penuh warna, jadilah warna yang bisa di sandingkan dengan warna apapun,wooiiii…indah.
Wayang yang bersifat metafor adalah merupakan bukti cinta kita pada Papua,” pungkasnya. (Agus S.)

Perjalanan Panjang Wayang Papu
Share. Facebook Twitter WhatsApp Copy Link

Postingan Terkait

Sanggar Seni Gedhang Godhog Torehkan Prestasi, Satu Satunya Pelestari Kentrung di Tulungagung

Senin, 17 November 2025 - 23:53 WIB

Pemkab Tulungagung Gelar Jamasan Pusaka Tombak Kanjeng Kyai Upas Tahun 2025

Jumat, 11 Juli 2025 - 19:18 WIB

Festival Budaya Spiritual Bertema “Yatra Tuk Jiwa” Dibuka, Berlangsung di Pendopo Tulungagung Hingga 13 Juli

Kamis, 10 Juli 2025 - 22:39 WIB
Add A Comment
Leave A Reply

Berita Terbaru

Polres Situbondo Tetapkan Empat Orang Tersangka Perjudian Sabung Ayam di Mangaran

Sabtu, 9 Mei 2026 - 20:21 WIB

Ratusan Gamer Ramaikan Kapolres Cup Mobile Legends di Situbondo Jawa Timur

Sabtu, 9 Mei 2026 - 20:00 WIB

Hadiri HUT PPNI ke-52, Ini Pesan Plt Bupati Tulungagung

Sabtu, 9 Mei 2026 - 16:43 WIB

Jamaah Calon Haji Tulungagung 1447 Hijriyah Diberangkatkan, Ini pesan Plt. Bupati Ahmad Baharudin

Kamis, 7 Mei 2026 - 16:36 WIB
Load More
Copyright © 2026 liputan11 All Right Reserved
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.