
JOMBANG,Liputan11.com – Kesehatan jiwa tenaga kesehatan menjadi perhatian RSUD Jombang dalam momentum peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Tak sekadar menggelar seminar, rumah sakit milik pemerintah daerah ini menghadirkan pendekatan berbeda dengan meluncurkan buku Surviving the Years of Health Service, yang merangkum pengalaman, ungkapan perasaan, hingga refleksi karyawan selama menjalani pengabdian di dunia pelayanan kesehatan.
Buku tersebut diluncurkan pada 13 Oktober 2026 di Ruang Wahab Hasbullah RSUD Jombang. Kegiatan ini juga diisi dengan seminar dan pameran karya seni yang diikuti karyawan serta tenaga kesehatan di lingkungan rumah sakit.
Peluncuran buku ini menjadi ruang bagi para tenaga kesehatan untuk menyampaikan suara yang terkadang luput dari perhatian di tengah rutinitas pelayanan. Di balik tanggung jawab merawat pasien, mereka juga memiliki pengalaman, tekanan, harapan, dan persoalan yang membutuhkan ruang untuk diungkapkan serta dipahami.
Direktur RSUD Jombang, dr. Pudji Umbaran, menjelaskan bahwa kesehatan jiwa merupakan bagian penting dalam mendukung kinerja tenaga kesehatan. Kondisi psikologis yang terjaga dinilai berperan dalam membantu petugas menjalankan tugas secara optimal, menjaga profesionalisme, serta memberikan pelayanan yang baik kepada pasien.
Gagasan penerbitan buku tersebut berawal dari kesempatan yang diberikan manajemen kepada karyawan untuk menuangkan pengalaman dan perasaan mereka melalui tulisan. Berbagai ungkapan kemudian terkumpul, memperlihatkan keragaman pengalaman selama bekerja di lingkungan rumah sakit.
“Berbagai macam ekspresi terungkap, ada yang mengeluh, dan ada pula yang betul-betul ingin mengapresiasikan diri dalam pelayanan kesehatan yang baik,” ujar Pudji Umbaran.
Menurut Pudji, tulisan-tulisan tersebut memiliki arti lebih dari sekadar catatan pengalaman personal. Aspirasi yang disampaikan karyawan dapat menjadi bahan bagi manajemen untuk memahami dinamika internal, mengetahui persoalan yang dirasakan petugas, sekaligus mengevaluasi kebutuhan di lingkungan kerja.
Dengan demikian, buku Surviving the Years of Health Service diharapkan tidak berhenti sebagai karya dokumentasi. Berbagai masukan di dalamnya dapat menjadi salah satu pijakan dalam merumuskan kebijakan dan program kerja yang lebih responsif terhadap kondisi karyawan.
Pudji menilai, menjaga kesehatan jiwa tenaga kesehatan merupakan tanggung jawab yang perlu mendapat perhatian bersama. Tuntutan pekerjaan di rumah sakit mengharuskan setiap petugas mampu menjaga konsentrasi, mengelola emosi, serta berkomunikasi secara profesional ketika memberikan pelayanan kepada pasien.
“Kesimpulannya, kesehatan jiwa tetap harus kita pertahankan, dan pelayanan kesehatan harus disesuaikan dengan kondisi jiwa yang stabil agar emosi yang ada di rumah tidak terbawa ke dalam pelayanan,” jelasnya.
Ia menegaskan, kemampuan mengendalikan emosi menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kualitas interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien. Karena itu, perhatian terhadap kondisi psikologis karyawan perlu berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan mutu pelayanan dan menjaga keselamatan pasien.
Di sisi manajerial, berbagai keluhan dan aspirasi yang terkumpul diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah tindak lanjut. Manajemen akan merancang program kerja dengan memperhatikan kebutuhan karyawan serta persoalan yang teridentifikasi, sehingga upaya menjaga kesehatan jiwa dapat diarahkan secara lebih tepat.
Momentum ini sekaligus membuka perspektif bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya bergantung pada kompetensi tenaga medis, kelengkapan fasilitas, dan sistem kerja. Kondisi psikologis orang-orang yang berada di balik pelayanan juga menjadi aspek penting yang patut diperhatikan.
Melalui peluncuran buku, seminar, dan pameran seni, RSUD Jombang berupaya membangun kesadaran bahwa tenaga kesehatan tidak hanya dituntut untuk selalu hadir bagi pasien, tetapi juga membutuhkan ruang untuk didengar dan dipahami.
Pada akhirnya, Surviving the Years of Health Service menjadi pengingat bahwa di balik setiap pelayanan terdapat manusia dengan pengalaman dan pergulatannya sendiri. Mendengarkan suara mereka merupakan langkah awal untuk membangun lingkungan kerja yang lebih sehat, memperkuat profesionalisme, dan menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin humanis bagi masyarakat.(im)