
JOMBANG,Liputan11.com – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN Kesamben Tahun Ajaran 2026/2027 tidak hanya menjadi kegiatan seremonial penyambutan peserta didik baru. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi sekolah untuk menanamkan nilai karakter, memperkuat akhlak, serta membangun budaya positif sejak awal siswa menginjakkan kaki di lingkungan pendidikan yang baru.
Sebanyak 286 siswa baru mengikuti rangkaian MPLS yang berlangsung pada 13–15 Juli 2026. Sebelum kegiatan utama dimulai, pihak sekolah terlebih dahulu menggelar Pra MPLS pada 9–10 Juli 2026 sebagai tahap awal adaptasi siswa terhadap lingkungan sekolah, pengenalan budaya belajar, serta pembentukan kesiapan mental dan akademik sebelum mengikuti proses pembelajaran.
Kepala SMAN Kesamben, Witin, S.Pd., MM, menyampaikan bahwa MPLS merupakan bagian penting dalam proses transisi siswa dari jenjang sebelumnya menuju kehidupan baru sebagai pelajar SMA. Menurutnya, masa awal masuk sekolah menjadi kesempatan strategis untuk memberikan pemahaman mengenai lingkungan sekolah, tata tertib, budaya positif, hingga nilai-nilai yang menjadi karakter utama SMAN Kesamben.
“Pra MPLS menjadi langkah awal untuk menyambut siswa baru. Melalui kegiatan ini, siswa dikenalkan dengan berbagai hal, termasuk organisasi siswa seperti OSIS dan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang nantinya menjadi salah satu dasar dalam pemetaan kemampuan siswa,” ungkap Witin.
Dalam pelaksanaan MPLS, para siswa mendapatkan berbagai materi pembekalan yang disusun untuk membangun wawasan, kedisiplinan, serta kepedulian sosial.
Materi yang diberikan meliputi Wawasan Wiyata Mandala, wawasan kebangsaan, pendidikan antikorupsi, pengenalan Kurikulum Merdeka, strategi belajar efektif, etika bermedia sosial, pembatasan penggunaan gawai, hingga penerapan budaya 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun).
Selain pembekalan akademik dan wawasan kebangsaan, sekolah juga memberikan perhatian besar terhadap pembentukan karakter melalui edukasi pencegahan perundungan atau bullying. Para siswa diajak memahami pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai antarwarga sekolah.
Sebagai bentuk komitmen bersama dalam menciptakan sekolah ramah anak, kegiatan MPLS juga ditutup dengan deklarasi anti-kekerasan. Melalui deklarasi tersebut, seluruh siswa diajak berperan aktif menjaga lingkungan sekolah agar terbebas dari tindakan kekerasan, diskriminasi, maupun perilaku negatif lainnya.
Menurut Witin, penguatan karakter dan akhlak siswa menjadi salah satu fokus utama program pendidikan di SMAN Kesamben. Sekolah tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga berupaya membentuk pribadi siswa yang memiliki nilai moral, tanggung jawab, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
“Pembentukan karakter dilakukan melalui pembiasaan positif yang diterapkan setiap hari. Kami membangun budaya 5S dan berbagai kegiatan keagamaan agar siswa memiliki kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Salah satu program unggulan yang menjadi ciri khas SMAN Kesamben adalah pelaksanaan kegiatan ibadah berjamaah, seperti salat zuhur, asar, dan Jumat. Tidak hanya menjadi kegiatan rutin, program tersebut juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar mengambil peran dan meningkatkan rasa percaya diri.
Dalam pelaksanaan salat Jumat, misalnya, siswa diberikan kesempatan menjadi muazin maupun bilal, sementara siswa lainnya mengikuti kegiatan keputrian yang dibimbing oleh guru Pendidikan Agama Islam. Melalui kegiatan tersebut, sekolah berupaya menanamkan nilai kepemimpinan, tanggung jawab, serta pembiasaan religius dalam kehidupan siswa.
“Ketika siswa diberikan ruang untuk tampil dan mengambil peran, mereka akan lebih percaya diri sekaligus belajar bertanggung jawab,” ujar Witin.
Memasuki Tahun Pelajaran 2026/2027, SMAN Kesamben juga terus mengembangkan berbagai program inovatif untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Beberapa program yang disiapkan antara lain absensi berbasis fingerprint, program SIKAP dan ASRI, pemilihan Ketua OSIS melalui sistem e-voting, bantuan pendidikan bagi siswa kurang mampu, kunjungan edukasi, serta program motivasi bersama alumni.
Berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga membangun kemampuan sosial, kepemimpinan, kreativitas, dan karakter siswa.
Witin berharap seluruh siswa baru dapat memanfaatkan masa pendidikan di SMAN Kesamben dengan sebaik-baiknya. Ia menekankan bahwa keberhasilan siswa tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari sikap, karakter, dan kemampuan mereka menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami ingin mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, berakhlak baik, disiplin, dan mampu menghadapi tantangan di masa depan,” pungkasnya. (im)