JOMBANG,Liputan11.com – Di tengah tekanan industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) nasional akibat tingginya rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL), PT BPR Bank Jombang (Perseroda) justru menunjukkan langkah progresif melalui transformasi digital. Bank milik Pemerintah Kabupaten Jombang tersebut berhasil menorehkan prestasi dengan memboyong dua penghargaan dalam ajang Indonesia Digital Technology dan Innovation (IDTI) Awards 2026 di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Capaian tersebut menjadi pengakuan atas upaya Bank Jombang dalam mengembangkan inovasi teknologi sekaligus memperkuat tata kelola dan kualitas layanan perbankan di tengah tantangan industri keuangan yang semakin kompetitif.
Dalam ajang yang digagas BusinessUpdate.id bersama BRAIN IPB University dengan tema “Innovative Advanced Digital Technology for Resilient Business and Industry” tersebut, Bank Jombang berhasil meraih dua penghargaan sekaligus.
Masing-masing, Best Smart Technology Innovation of The Year 2026 dan The Best Inspiring CEO in Digital Transformation of The Year 2026, yang diberikan kepada Direktur Utama Bank Jombang, Afandi Nugroho.
Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah integrasi pengelolaan Rekening Kas Desa dengan ekosistem perbankan digital. Melalui aplikasi My Bank Jombang dan fasilitas Cardless ATM yang tersedia di sejumlah titik strategis serta kantor cabang, Bank Jombang berupaya menghadirkan layanan transaksi yang lebih mudah, cepat, dan efisien.
Inovasi tersebut memungkinkan pemerintah desa mengakses berbagai layanan keuangan, mulai dari penarikan tabungan hingga transfer antarbank secara real-time. Digitalisasi ini sekaligus diarahkan untuk mendukung transparansi pengelolaan keuangan desa serta memperluas akses layanan perbankan bagi pelaku UMKM dan mitra usaha lokal.
Direktur Utama Bank Jombang, Afandi Nugroho, menegaskan bahwa transformasi digital yang dilakukan perusahaan bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan menjadi strategi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Inovasi digital yang kami kembangkan tidak sekadar mengikuti tren, tetapi dirancang untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat. Integrasi Rekening Kas Desa dengan sistem perbankan digital kami terbukti mempermudah tata kelola keuangan desa sekaligus memperluas aksesibilitas bagi pelaku UMKM dan mitra usaha lokal,” ujar Afandi.
Namun, transformasi digital Bank Jombang tidak hanya difokuskan pada peningkatan kualitas pelayanan. Pemanfaatan teknologi juga diarahkan untuk memperkuat pengendalian risiko kredit, terutama di tengah meningkatnya tantangan yang dihadapi industri BPR nasional.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang disampaikan dalam materi perusahaan, rasio kredit bermasalah atau NPL BPR nasional mencapai 12,31 persen. Kondisi tersebut mencerminkan besarnya tekanan terhadap sektor perbankan mikro, terutama akibat dinamika ekonomi, meningkatnya biaya operasional UMKM, melemahnya daya beli masyarakat, hingga kendala dalam proses penyelesaian dan pelelangan agunan.
Menghadapi situasi tersebut, Bank Jombang mengembangkan strategi pengelolaan risiko dengan memanfaatkan teknologi informasi. Salah satunya melalui peluncuran portal pemasaran agunan digital di laman https://infolelang.bankjombang.co.id.
Platform tersebut diharapkan mampu meningkatkan transparansi informasi sekaligus memperluas jangkauan pemasaran aset agunan kredit, sehingga proses penyelesaian kredit bermasalah dapat berjalan lebih efektif dan terukur.
Tak berhenti di situ, Bank Jombang juga mulai mengimplementasikan Loan Origination System (LOS) berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam proses penyaluran kredit baru. Sistem ini dirancang untuk membantu meningkatkan akurasi analisis calon debitur, memperkuat proses seleksi pembiayaan, serta meminimalkan potensi risiko kredit sejak awal.
Afandi menjelaskan, penguatan sistem teknologi tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga kualitas portofolio kredit sekaligus memastikan penyaluran pembiayaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“Menghadapi tingginya risiko NPL industri BPR nasional, Bank Jombang mengambil langkah progresif melalui pengetatan analisis kredit berbasis AI serta transparansi pemasaran agunan via Info Lelang Digital. Kami memadukan kecanggihan sistem Loan Origination System dengan pendampingan langsung bagi debitur potensial agar kualitas portofolio tetap terjaga,” jelasnya.
Raihan dua penghargaan IDTI Awards 2026 tersebut menjadi momentum bagi Bank Jombang untuk terus memperkuat transformasi bisnis, bukan hanya dari sisi digitalisasi layanan, tetapi juga dalam membangun sistem pengelolaan risiko yang lebih adaptif terhadap perubahan ekonomi.
Di tengah persaingan industri perbankan dan ancaman peningkatan kredit bermasalah, tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai inovasi tersebut benar-benar berdampak terhadap kinerja perusahaan, kualitas kredit, serta kemudahan akses layanan keuangan bagi masyarakat.
Dengan menggabungkan inovasi teknologi, penguatan manajemen risiko, dan penerapan prinsip kehati-hatian (prudential banking), Bank Jombang optimistis dapat mempertahankan kepercayaan masyarakat sekaligus memperkuat perannya sebagai salah satu penggerak perekonomian daerah.(lil)
