Tulungagung, Liputan11.Com – Bertempat
di Pendopo Balai Desa Karangtalun pada Minggu malam (9/8/2026). Pemerintah Desa (Pemdes) Karangtalun, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, sukses menggelar kegiatan Do’a Bersama dan Pengajian dalam rangka Bersih Desa.
Tradisi tahunan ini dihadiri langsung oleh jajaran Forkopimcam Kalidawir, Kepala Desa Karangtalun, BPD, LPM, perangkat desa, kepala dusun, ketua RT/RW, Karang Taruna, tokoh agama, tokoh masyarakat, TP-PKK, pengurus Posyandu, serta ratusan warga masyarakat yang antusias memenuhi lokasi acara.
Dari rangkaian acara Bersih Desa, Sekretaris Desa (Sekdes) Karangtalun, Suyatno, membacakan sejarah singkat Desa Karangtalun guna mengenang jasa para leluhur dan mempererat kecintaan warga terhadap desanya.
Berdasarkan versi pemerintah desa, sejarah Karangtalun bermula pada zaman penjajahan Belanda ketika dua pengikut Pangeran Diponegoro melarikan diri dan membuka hutan belantara. Kedua tokoh tersebut bernama Guno Seco dan Singo Taruno.
”Ketika membuka hutan belantara, salah satu dari mereka mengambil karang atau batu dari laut untuk ditanam di wilayah tersebut sebagai pengingat. Jika kelak wilayah ini menjadi ramai, maka dinamakan Karangtalun, di mana ‘Karang’ berarti batu dan ‘Alun’ (asal kata laut) melambangkan laut,” jelas Sekdes Suyatno di hadapan para tamu undangan.
Seiring perkembangan zaman, tepat pada tahun 1963, lokasi penanaman batu tersebut diberi tanda berupa replika Tugu Monas sebagai lambang pusat Desa Karangtalun.
Dalam perjalanannya, wilayah Desa Karangtalun dibagi menjadi tiga dusun dengan cerita unik di balik penamaannya:

Dusun Karangsono: Dinamakan demikian karena dahulu wilayah tersebut merupakan hutan belantara yang ditumbuhi banyak pohon kayu sono.
Dusun Karangtalun (Krajan): Pusat permukiman awal desa.
Dusun Bendilnjet: Berawal dari hutan belukar, di mana saat ditebang, warga menemukan sebuah kendil (periuk tanah) berisi njet. Pemiliknya tidak diketahui hingga kini, dan meski isinya sering diambil warga sekitar, benda tersebut tidak pernah habis.
Pemdes Karangtalun membuka diri apabila ada warga yang memiliki catatan sejarah versi lain, demi menyempurnakan penulisan sejarah desa di masa mendatang.
Kepala Desa Karangtalun, Drs. Agus Imam Wijayanto, M.Si., dalam sambutanya mengungkapkan bahwa tradisi bersih desa ini merupakan agenda rutin yang pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal desa.
”Tujuan utama kita tetap sama, yakni memohon kepada Allah SWT agar Desa Karangtalun beserta seluruh warganya senantiasa diberikan keselamatan, perlindungan, serta kelancaran rezeki,” ujar Kades Agus.
Di tempat yang sama Camat Kalidawir, Rusdianto, yang turut hadir dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi tinggi kepada Pemdes dan masyarakat Karangtalun. Ia mendoakan agar warga desa senantiasa sehat, limpah rezeki, serta dijauhkan dari segala marabahaya.
Camat Kalidawir juga menyampaikan dua pesan penting kepada warga masyarakat yakni:
Menyambut HUT RI: Mengajak seluruh warga untuk bersama-sama menyemarakkan dan memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang akan jatuh pada 17 Agustus mendatang. Pantai & Kepulauan
Menjaga Guyub Rukun: Mengingatkan para tokoh agama dan masyarakat untuk terus mengedepankan kerukunan, sejalan dengan slogan Bupati Tulungagung, yaitu “Jogo Tulungagung, Jogo Karangtalun”, demi terciptanya lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif,” tutupnya.(ag)
