liputan11Situbondo– Proyek revitalisasi sarana dan prasarana di TK Nurul Hidayah tengah menjadi sorotan tajam. Pasalnya, pelaksanaan kegiatan Revitalisasi yang didanai pemerintah pusat dari kementrian pendidikan, tersebut diduga kuat mengabaikan standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), serta menciptakan iklim kerja yang tertutup hingga terkesan antikritik.
Pantauan di lokasi menunjukkan pemandangan yang memprihatinkan. Para pekerja terlihat beraktivitas tanpa alat pelindung diri (APD) yang memadai di tengah struktur bangunan yang rawan.29/10/2026
Penerapan K3 dalam proyek yang dibiayai uang rakyat bukan sekadar formalitas, melainkan kewajiban mutlak untuk meminimalisir risiko kecelakaan kerja. Namun,di lapangan tampak seolah menyepelekan aspek fundamental tersebut demi mempercepat durasi pengerjaan.

Ketika tim investigasi mencoba melakukan konfirmasi di lapangan terkait spesifikasi material dan standar keselamatan yang digunakan, Kepala Sekolah TK Nurul Hidayah justru menunjukkan sikap yang sangat defensif dan enggan berkomunikasi,sempat di telpn melalui Watshap gak pernah di angkat dan juga di chat gak pernah di balas, Alih-alih memberikan klarifikasi atau transparansi informasi mengenai anggaran pemerintah yang digunakan, sang kepala sekolah justru memberikan respons yang sangat tidak kooperatif dan menunjukkan sikap antikritik terhadap kedatangan wartawan.
Sikap tertutup ini tentu memicu kecurigaan publik. Publik berhak mempertanyakan sejauh mana transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana negara dalam proyek ini jika pihak pengelola sekolah justru menunjukkan sikap alergi terhadap keterbukaan informasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak sekolah maupun dinas terkait mengenai dugaan kelalaian K3 di lokasi proyek. Masyarakat kini menanti tindakan tegas dari instansi pengawasan untuk segera mengaudit pelaksanaan revitalisasi TK Nurul Hidayah agar sesuai dengan aturan, aman bagi lingkungan, dan jauh dari praktik ketidaktransparan.(Tim)
