Mengalir Darah Prajurit, Anak TNI dari Kampung Pesisir Menembus Gelar Doktor

Berau Kaltimliputan11– Di balik sunyi yang jarang disapa kamera dan mikrofon, lahir sebuah kisah besar tentang pengabdian yang tumbuh tanpa sorak-sorai. Dari kampung pesisir Talisayan yang jauh dari pusat keputusan, seorang anak prajurit TNI membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari mimpi, melainkan awal dari perjalanan panjang yang ditempa ketekunan.
Ayahnya adalah seorang prajurit TNI berpangkat Sersan Kepala. Sosok yang mengabdikan hidup dalam disiplin dan kesetiaan tanpa banyak kata. Ia tak mewariskan harta, tetapi meninggalkan nilai-nilai kehidupan yang kuat: keteguhan, loyalitas, dan keberanian untuk bertahan. Kini sang ayah telah tiada, namun nilai-nilai itu tetap hidup dan mengalir dalam diri anaknya.
Sejak kecil, ia menyimpan cita-cita sederhana namun mulia: menjadi seorang dokter. Keinginan untuk menyembuhkan dan memberi harapan kepada sesama menjadi mimpi yang ia jaga dalam diam. Namun kondisi ekonomi keluarga memaksanya menempuh jalan berbeda. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk mengubah arah pengabdian.

Di balik perjuangan tersebut, berdiri sosok ibu rumah tangga yang menjadi pilar kekuatan. Tanpa gelar akademik dan tanpa sorotan publik, ia setia menguatkan langkah anaknya melalui doa yang tak pernah putus.
“Ayah saya mengajarkan disiplin lewat teladan. Ibu saya mengajarkan keteguhan lewat doa. Dari merekalah saya belajar bertahan,” ujar Dr. Hj. Dewi Sugesti, S.Pd., M.A.P.
Meski cita-cita menjadi dokter tak terwujud, semangat untuk menyembuhkan tidak pernah padam. Ia memilih jalur pendidikan sebagai medan pengabdian. Menjadi guru SMP di Kampung Talisayan, tempat ayahnya dulu bertugas, menjadi titik awal perjalanan panjangnya.
Di ruang kelas, ia menemukan makna baru dari pengabdian. Baginya, mendidik adalah bentuk penyembuhan yang lebih luas—menyembuhkan ketidaktahuan, menumbuhkan harapan, dan menyiapkan masa depan generasi muda.
Hari-harinya dijalani dalam ritme disiplin yang senyap. Siang mengajar, malam belajar. Nilai-nilai yang diwariskan sang ayah menjelma dalam kesabaran menghadapi keterbatasan, kesetiaan pada tugas, serta keteguhan menjaga arah hidup. Semua dilalui tanpa jalan pintas.
Seiring waktu, pengabdiannya di dunia pendidikan membuka kesadaran baru. Ia melihat bahwa pendidikan bukan hanya soal ruang kelas, tetapi juga berkaitan erat dengan kebijakan yang menentukan arah masa depan banyak orang. Langkahnya pun berlanjut ke ranah yang lebih luas sebagai Analis Kebijakan di Dinas Pendidikan Kabupaten Berau.
“Saya tidak menjadi dokter, tetapi saya belajar menyembuhkan dengan cara lain—melalui pendidikan dan kebijakan yang berpihak,” tuturnya.
Perjalanan panjang itu berlangsung dalam diam, bertahun-tahun tanpa gemuruh. Hingga akhirnya, ia mencapai puncak akademik yang menjadi peneguhan atas seluruh ikhtiar yang dijalani: gelar Doktor.
Kini, darah prajurit yang mengalir dalam dirinya bukan sekadar simbol seragam dan barisan tugas negara. Ia telah menjelma menjadi semangat pengabdian yang hidup dalam ilmu pengetahuan, kebijakan, dan keteladanan.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa perjuangan tak selalu harus terlihat untuk bermakna. Bahwa dari tempat yang jauh dari pusat kuasa, lahir pengabdian yang dampaknya mampu menjangkau banyak kehidupan.
Nama itu kini terpatri sebagai bukti nyata:
Dr. Hj. Dewi Sugesti, S.Pd., M.A.P.
Sebuah kisah tentang keteguhan, tentang doa yang tak pernah putus, dan tentang mimpi yang menemukan jalannya—meski harus menempuh rute yang berbeda.
Keberhasilan tersebut juga atas suport sang suami yang asli bondowoso kecamatan tegalampel desa mandiro.(hairul)



