“RSUD Jombang Perkuat Garda Depan Lawan TB di Hari Tuberkulosis Sedunia 2026: Layanan Gratis, Edukasi Masif, dan Target Putus Rantai

JOMBANG,Liputan11.com– RSUD Jombang menegaskan komitmennya dalam memerangi Tuberkulosis (TB) melalui peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2026 yang digelar di depan poli paru, Selasa (31/3/2026). Kegiatan ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat edukasi publik, menghapus stigma, serta mendorong percepatan pemutusan rantai penularan TB di masyarakat.
Peringatan tersebut dihadiri jajaran pimpinan rumah sakit, mulai dari Wakil Direktur Keuangan, Wakil Direktur Pelayanan, hingga para kepala bidang medis dan keperawatan. Sejumlah pasien TB yang tengah menjalani pengobatan juga turut hadir, mencerminkan pendekatan inklusif yang mengedepankan kolaborasi antara tenaga kesehatan dan pasien.
Direktur RSUD Jombang, dr. Pudji Umbaran, M.KP, menjelaskan bahwa peringatan yang semestinya dilaksanakan pada 24 Maret itu baru dapat digelar karena tingginya beban pelayanan pasca libur panjang. Saat itu, lonjakan kunjungan pasien membuat seluruh tenaga difokuskan pada layanan kesehatan.
“Pelayanan kami saat itu sangat padat bahkan overload, sehingga kami memprioritaskan penanganan pasien. Hari ini baru bisa kami laksanakan, namun esensinya tetap sama, yakni edukasi dan penguatan komitmen,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, RSUD Jombang menegaskan bahwa Tuberkulosis bukanlah penyakit kutukan, melainkan penyakit menular yang dapat disembuhkan secara tuntas apabila ditangani dengan benar. Edukasi ini dinilai penting untuk mengikis stigma yang masih berkembang di tengah masyarakat.
Menurut dr. Pudji, keberhasilan penanganan TB sangat ditentukan oleh kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan sesuai regimen yang telah ditetapkan tenaga medis. Disiplin minum obat dan menjaga daya tahan tubuh menjadi faktor kunci dalam meningkatkan angka kesembuhan sekaligus menekan risiko penularan.
“Jika pasien patuh dalam pengobatan, maka tingkat kesembuhan tinggi. Ketika pasien sembuh, otomatis rantai penularan dapat diputus. Ini yang menjadi target utama kami,” tegasnya.
Selain pengobatan, RSUD Jombang juga menaruh perhatian pada aspek pencegahan melalui edukasi perilaku hidup bersih dan sehat. Penularan TB yang terjadi melalui percikan batuk dan dahak menjadi fokus utama dalam sosialisasi kepada pasien dan masyarakat.
“Etika batuk dan cara membuang dahak yang benar adalah hal sederhana, tetapi berdampak besar dalam mencegah penularan. Ini terus kami tekankan dalam setiap edukasi,” tambahnya.

Sebagai rumah sakit rujukan, RSUD Jombang menerima pasien TB dari fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Pemerintah, melalui berbagai program, telah memastikan bahwa pengobatan TB dapat diakses secara gratis oleh masyarakat, termasuk melalui dukungan pembiayaan dari BPJS.
“Kami pastikan pengobatan TB tidak dipungut biaya. Ini bentuk komitmen pemerintah agar masyarakat tidak takut dan tidak ragu untuk berobat,” jelasnya.
Berdasarkan data layanan, rata-rata sekitar 40 pasien TB menjalani pengobatan setiap harinya di RSUD Jombang, dengan variasi kasus mulai dari kategori non-resisten hingga resisten obat. Kondisi ini menunjukkan bahwa TB masih menjadi persoalan kesehatan yang memerlukan penanganan serius dan berkelanjutan.
Untuk memperkuat upaya pengendalian, RSUD Jombang juga melakukan langkah proaktif dengan turun langsung ke lapangan. Bersama puskesmas, rumah sakit ini menyasar wilayah-wilayah yang menjadi kantong penyebaran TB untuk melakukan edukasi, skrining, dan deteksi dini.
“Kasus TB tidak tersebar merata, tetapi terkonsentrasi di titik-titik tertentu. Di wilayah tersebut kami lakukan pendekatan langsung, agar kasus bisa ditemukan lebih awal dan segera ditangani,” ungkapnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap gejala awal TB, seperti batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, nafsu makan menurun, demam pada malam hari, serta keringat dingin. Deteksi dini, menurutnya, menjadi kunci dalam meningkatkan peluang kesembuhan.
Melalui peringatan ini, RSUD Jombang menegaskan perannya tidak hanya sebagai penyedia layanan kesehatan, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam edukasi dan pencegahan penyakit. Dengan dukungan pemerintah, tenaga kesehatan, serta partisipasi aktif masyarakat, upaya eliminasi Tuberkulosis diharapkan dapat tercapai secara bertahap dan berkelanjutan.(Im)



