liputan11BONDOWOSO- Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bondowoso bersama Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) melaksanakan petik kopi perdana sebagai penanda dimulainya Panen Raya Kopi Tahun 2026 di Petak 16D Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sukorejo, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Sukosari. Kawasan tersebut merupakan hutan produksi yang dikelola melalui sistem agroforestri dengan komoditas kopi di bawah tegakan.8/7/2026
Kegiatan dihadiri Bupati Bondowoso Hamid Wahid didampingi Sekretaris Daerah beserta jajaran Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Administratur Perhutani KPH Bondowoso Misbakhul Munir beserta jajaran, Kepala Kejaksaan Negeri Bondowoso, Komandan Kodim 0822/Bondowoso, Kepala Kepolisian Resor Bondowoso, Komandan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 537/Tunggul Wulung, Forkopimcam Sumberwringin, Kepala Desa Sukorejo, Ketua dan Pengurus LMDH Sukorejo Makmur, serta para petani kopi mitra Perhutani.

Petik kopi bersama menjadi simbol dimulainya musim panen sekaligus wujud komitmen dalam mengembangkan kopi berbasis agroforestri yang mampu menyeimbangkan fungsi ekonomi, sosial, dan kelestarian lingkungan.
Bupati Bondowoso, Hamid Wahid, menyampaikan bahwa kopi merupakan komoditas unggulan daerah yang perlu terus dikembangkan melalui peningkatan produktivitas, kualitas pascapanen, hilirisasi, dan perluasan akses pasar agar semakin berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.
Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, menjelaskan bahwa budidaya kopi di kawasan hutan merupakan implementasi Pengelolaan Hutan Lestari (Sustainable Forest Management) melalui skema kemitraan kehutanan berbasis hasil hutan bukan kayu (HHBK). Menurutnya, sistem agroforestri mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menjaga konservasi tanah dan air, meningkatkan keanekaragaman hayati, serta memperkuat cadangan karbon.
“Perhutani terus mendorong penerapan silvikultur melalui sistem agroforestri sebagai bagian dari implementasi Pengelolaan Hutan Lestari (Sustainable Forest Management). Pola ini mengoptimalkan pemanfaatan ruang tumbuh di bawah tegakan tanpa mengganggu pertumbuhan tegakan utama, sehingga mampu meningkatkan produktivitas hasil hutan bukan kayu (HHBK), menjaga tutupan vegetasi, memperbaiki siklus hidrologi melalui peningkatan infiltrasi air, mengendalikan erosi, serta mendukung konservasi keanekaragaman hayati dan cadangan karbon. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan, sementara fungsi ekologis kawasan hutan tetap terpelihara,” jelas Misbakhul Munir.
Ketua LMDH Sukorejo Makmur, Ibrahim, menyampaikan bahwa kemitraan bersama Perhutani memberikan kepastian dalam pengelolaan lahan sekaligus meningkatkan kapasitas petani dalam budidaya kopi yang produktif dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini diharapkan sinergi antara Perhutani, Pemerintah Kabupaten Bondowoso, dan masyarakat semakin kuat dalam mengembangkan kopi berbasis agroforestri sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa hutan sekaligus menjaga kelestarian sumber daya hutan. (Sup)
