RSUD Ploso Harumkan Nama Indonesia di Forum Dunia, Dua Dokter Spesialis Mata Tampil di Kongres Internasional APAO 2026

JOMBANG, Liputan11.com — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan RSUD Ploso Kabupaten Jombang di panggung internasional. Dua dokter spesialis mata andalannya, dr. Dinda Zhafira, Sp.M., M.Ked.Klin dan dr. H.M. Sjarifudhin, Sp.M., M.MR., M.HKes., CMC, dipercaya menjadi delegasi sekaligus presenter ilmiah dalam ajang bergengsi Asia-Pacific Academy of Ophthalmology (APAO) Congress 2026, forum ilmiah terbesar bagi para pakar kesehatan mata di kawasan Asia-Pasifik.
Kongres tahunan edisi ke-41 yang berlangsung pada 5–8 Februari 2026 di Hong Kong tersebut mempertemukan ribuan dokter spesialis mata, peneliti, akademisi, serta praktisi medis dari berbagai negara untuk berbagi inovasi, riset terbaru, dan perkembangan teknologi oftalmologi modern. Kehadiran delegasi dari RSUD Ploso menjadi bukti nyata bahwa layanan kesehatan dari daerah mampu berdiri sejajar dan mendapat pengakuan di tingkat global.
Partisipasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan institusi, tetapi juga membawa nama Indonesia — khususnya Kabupaten Jombang — dalam forum ilmiah internasional yang selama ini didominasi rumah sakit besar dan pusat akademik dunia.
Dalam sesi presentasi poster ilmiah, kedua dokter memaparkan laporan kasus klinis berjudul “From Dengue to Lupus: Lupus Vasculitis Presenting as Acute Visual Loss During Dengue Fever.” Sebuah studi kasus yang lahir dari pengalaman nyata pelayanan medis di RSUD Ploso.
Kasus tersebut mengisahkan seorang pasien yang mengalami kehilangan penglihatan secara mendadak saat menjalani perawatan akibat demam berdarah dengue. Awalnya, gangguan penglihatan diduga sebagai komplikasi infeksi virus dengue yang umum terjadi.
Namun melalui ketelitian observasi klinis, pemeriksaan berlapis, serta pendekatan diagnostik yang komprehensif, tim dokter menemukan fakta mengejutkan: penyebab utama bukanlah infeksi dengue semata, melainkan penyakit autoimun Lupus yang bermanifestasi sebagai vaskulitis lupus pada pembuluh darah mata.
Kompleksitas diagnosis inilah yang menarik perhatian peserta kongres. Kasus tersebut dinilai menunjukkan pentingnya kepekaan klinis, kemampuan analisis mendalam, serta kolaborasi medis dalam mengungkap penyakit dengan gejala menyerupai kondisi umum.
“Keikutsertaan kami bukan hanya untuk mempresentasikan kasus, tetapi membawa pengalaman klinis dari rumah sakit daerah ke forum dunia. Ini menjadi bukti bahwa kualitas diagnosis dan pelayanan di RSUD Ploso terus berkembang mengikuti kemajuan ilmu kedokteran global,” ungkap dr. Dinda di sela kegiatan kongres.
Selain mempresentasikan penelitian, delegasi RSUD Ploso juga mengikuti berbagai simposium internasional, workshop teknologi medis, serta diskusi ilmiah mengenai inovasi terbaru dalam diagnosis dan terapi penyakit mata. Mulai dari teknik bedah modern, pendekatan terapi berbasis riset terbaru, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam oftalmologi menjadi bagian dari pembelajaran selama kongres berlangsung.
Ilmu dan pengalaman tersebut diharapkan dapat segera diimplementasikan dalam pelayanan sehari-hari, sehingga masyarakat Jombang dapat merasakan langsung manfaat perkembangan kedokteran dunia tanpa harus pergi ke kota besar.
Keikutsertaan ini sekaligus menjadi langkah strategis dalam meningkatkan standar pelayanan kesehatan mata di daerah agar semakin modern, presisi, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Apresiasi dan Kebanggaan Institusi
Direktur RSUD Ploso menyampaikan apresiasi tinggi atas capaian kedua dokter tersebut. Menurutnya, keberhasilan menembus seleksi presentasi ilmiah pada forum internasional bergengsi merupakan indikator nyata kualitas sumber daya manusia kesehatan di RSUD Ploso yang semakin kompetitif secara global.
Prestasi ini juga menjadi motivasi bagi seluruh tenaga medis untuk terus mengembangkan kompetensi, memperkuat budaya riset klinis, serta aktif berkontribusi dalam perkembangan ilmu kedokteran.
Local Experience, Global Recognition
Dengan semangat “Local Experience, Global Recognition,” RSUD Ploso terus berkomitmen mendorong tenaga medisnya untuk berkarya dan berkolaborasi di panggung internasional.
Langkah ini diyakini tidak hanya mengangkat reputasi institusi, tetapi juga menghadirkan layanan kesehatan yang semakin berkualitas, inovatif, dan berstandar global bagi masyarakat.
Keberhasilan ini menjadi pesan kuat bahwa rumah sakit daerah bukan sekadar fasilitas pelayanan kesehatan, melainkan juga pusat inovasi, pembelajaran, dan kontribusi ilmiah yang mampu memberi warna dalam perkembangan dunia medis internasional.(Im)



