Sanggar Seni Gedhang Godhog Torehkan Prestasi, Satu Satunya Pelestari Kentrung di Tulungagung

Tulungagung – liputan11.com, Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur menyimpan segudang seni dan budaya yang beraneka ragam. Kekayaan ini meliputi berbagai bentuk seni pertunjukan, ritual adat hingga kerajaan tangan khas yang sebagian diantara telah diakui sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) nasional.
Berbagai seni budaya unggulan dari Kabupaten Tulungagung diantaranya adalah kesenian Reog Kendang, jaranan sentherewe yang baru saja ditetapkan sebagai WBTB oleh Kemenbud RI. Selain itu ada juga kesenian Tiban, Kentrung, Wayang kulit dan wayang Jemblung.
Dari kesekian sanggar seni yang ada di Tulungagung, satu-satunya Sanggar Seni yang masih setia melestarikan kesenian Kentrung yaitu Sanggar Seni Gedhang Godhog yang berada di Dusun Ngingas, Desa/Kecamatan Campurdarat.
Yayak Priasmara pria kelahiran Surabaya 21 Mei 1987 pengasuh Sanggar Seni Gedhang Godhog saat ditemui awak media mengatakan, seni Kentrung adalah seni sastra lisan atau tutur berbahasa Jawa yang dibawakan oleh Dalang Kentrung dengan diiringi tabuhan terbang, jedhor, dan kendang. Yang mana pada awalnya seni Kentrung digunakan oleh para Wali untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

“Biasanya seni Kentrung disajikan selama semalam suntuk untuk kalangan orang tua pada acara ruwatan dan nadzar. Namun sekarang ini sudah sangat jarang kita temui, untuk itu kami sebagai generasi penerus sudah selayaknya melestarikan kesenian tersebut jangan sampai punah, karena itu merupakan seni tradisional peninggalan nenek moyang kita terdahulu,” ujar Yayak, Senin (17/11/2025).
Pria yang banyak mempunyai pengalaman sebagai Juri dalam berbagai Festival tingkat Kabupaten dan Provinsi mengungkapkan, dirinya menggeluti dunia seni sejak kecil. Kemudian mengembangkannya ketika kuliah. Lalu pada tahun 2011 mantap membuat Sanggar Seni Gedhang Godhog yang bergerak di bidang teater Kentrung, sastra dan musik. Yayak pula penulis naskah dan sutradara utama di sanggar tersebut hingga kini.
“Awal mulanya Gedhang Godhog lahir sebagai ekstrakurikuler teater di SMPN 2 Campurdarat. Karena saya ingin lebih leluasa dalam memasyarakatkan Teater dan melestarikan Kentrung, maka pada tahun 2016 saya pindahkan status Sanggar Seni Gedhang Godhog menjadi sanggar seni mandiri di luar sekolah hingga sekarang ini,” ungkapnya.
Dirinya juga mengaku menggandrungi Kentrung dari kedekatannya dengan maestro Kentrung perempuan yang ada di Tulungagung yaitu almarhum Mbok Gimah dalang Kentrung dari Dusun Patik Batangsaren kecamatan Kauman.
“Sejak tahun 2009, saya mengikuti mbok Gimah kemana saja beliau pentas hingga keliling Jawa Timur, dari sanalah saya tertarik untuk memasukkan Kentrung di dalam sanggar ini yang awalnya merupakan sanggar teater saja. Mengingat, selain Mbok Gimah tidak ada lagi grup kentrung di kota ini, terlebih yang beranggotakan generasi muda”, tuturnya.



